Bedah Kemasan UMKM Bareng Praktisi Branding

Pada momentum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76, OK OCE Indonesia bersama dengan Seeker Revolution melangsungkan kegiatan Virtual Business Gathering OK OCE  #9. Pada kegiatan ini berkonsep Program BEDAKAN (Bedah Kemasan) yang merupakan salah satu Program dari OK OCE Kemanusiaan yang bertujuan Membantu UMKM terdampak yang termasuk dalam kategori 8 Asnaf  yang kemasan produknya kurang baik  akan dibedah menjadi lebih baik, kemudian dibantu pengadaan kemasannya sebanyak 100 pcs untuk setiap penerima manfaat. 

BEDAKAN akan diselenggaran setiap bulan pada pekan ke-2 masuk dalam T3 Pendampingan pada Kurikulum 7 TOP. Setiap Bulannya akan berikan 5-10 Penerima manfaat untuk Program BEDAKAN ini. Batch 1 merupakan Soft Launching Program BEDAKAN bersama Pendiri OK OCE Indra Uno dan Pak Bi, sapaan akrab Subiakto yang merupakan Praktisi Branding selama 50 tahun. Grand Launching pada Batch 2 akan berlangsung bersama pendiri OK OCE sekaligus Menteri Parekraf Sandiaga Uno.

Packaging atau kemasan menjadi pokok pembahasan pada kegiatan kali ini. Subiakto atau yang sering dipanggil Pak Bi, telah mempelajari ilmu mengenai packaging pada tahun 1969. Packaging as a silent salesman adalah judul pembahasan Pak Bi pada kegiatan VBG #9 ini.

“Perbedaan packaging dari tahun ke-tahun berubah akibat dari fokus penjualan produk dan juga fokus penjual kepada konsumen. Sebagus dan seeksklusif packaging kita dikategorikan sama pada suatu laci ketika berada pada toko. Hal tersebut dianalogikan oleh Pak Bi dengan kontes puteri Indonesia, karena pada hal tersebut konsumen melakukan verifikasi kira-kira produk mana yang sesuai dengan selera mereka,”ungkapnya.

Bi menjelaskan, 2021 adalah tahun dimana perubahan dari sistem penjualan sudah sangat jelas terlihat terutama di masa pandemi covid 19 ini, dimana sistem penjualan berubah “from offline to online”. Lantas perbedaan dari toko offline dan online adalah bagaimana cara kita untuk bisa menjual minat dengan kemasan produk yang kita miliki. “Ketika offline kita dapat melakukannya dengan cara menjual diri, dalam artian menjajakan produk yang kita jual dengan pengumuman. Sistem Broadcast yang dilakukan pada saat offline store bersifat many interest, jelas berbeda dengan online store yang cenderung bersifat mutual interest,”.

Saat ini semua orang adalah media, dimana semua orang dapat memberitakan dan semua orang dapat memberikan sebuah pesan. Sehingga rating, review, dan recommendation adalah The New Currency dari sesuatu brand’s.

 Adanya digital disruption di dalam pertemanan, keluarga, komunitas bahkan nasihat yang diberikan apakah valid atau tidak, selain itu produk yang bagus juga dapat kalah dengan sebuah konten. Sehingga hal-hal terdesak itulah yang saat ini menjadi permasalahan.

Bi juga menjelaskan bahwa rekomendasi baik yang diberikan kepada seseorang adalah suatu respon baik terhadap produk yang kita jual maka kita akan menang, sebaliknya apabila produk kita tidak direkomendasikan maka kita perlu mencari solusinya.

Pada masa sekarang Packaging is New Mind, karena pasar saat ini adalah anak-anak millennials yang sangat terpengaruh oleh rekomen-rekomendasi dari teman. Dalam hal perdagangan, terdapat ilmu yang paling tau yakni selling. Selling dilakukan ketika mata uang diciptakan oleh manusia, dan terjadi 600 tahun sebelum masehi.

Perubahan terjadi pada marketing 4P menjadi 4 E saat marketing modern ditemukan. Selling hanya memiliki dasar 2 P yaitu product dan price, sedangkan marketing modern adalah 4P yakni product, price, place dan promotion. Di tahun 2015 marketing berubah menjadi 4 E, dimana didalamnya terdapat engagement, excitement, everywhere dan evangelist.

Selain itu, market Segmentation memiliki peran yang sangat besar di dalam penjualan. Ada beberapa pembagian dari konsumen dengan tingkat keinginan untuk membeli dan juga daya saing. Salah satu contoh dari market segmentation adalah millennial dimana mereka sangat aktif dan kreatif, daya beli sedang dan jangkauan dari pasar bisa mencapai 15 tahun kedepan. Sehingga dalam membuat kemasan penting untuk kita melihat pasar yang mana yang akan kita suguhnya produk kita.

Di dalam dunia bisnis kita harus bisa mengubah dari seseorang yang tidak kita kenal, menjadi pembeli atau pelanggan produk kita.

Pelanggan pada saat ini ini  tidak hanya mengkonsumsi produk yang kita jual melainkan juga mengkonsumsi ataupun membaca terkait konten kita di media sosial. “Dimana mereka ketika kita kumpulkan dapat disebut sebagai evangelist dan terus berubah menjadi tribes dimana mereka menyebarkan berita berita baik kepada teman-temannya. Selain itu pelanggan juga bisa menjadi brand advocate lalu menjadi tribes dan juga mereka berperan untuk berbagi terkait pengalaman baik mereka. Brand advocate sendiri bersifat memotivasi dan menginspirasi. Untuk membuat sebuah konten kita memerlukan terkait copywriting, visual dan audio,” jelas Bi.

Selanjutnya, packaging atau kemasan perlu sama-sama kita perhatikan terkait daya tarik untuk konsumen dalam melakukan pemilihan transaksi. Seperti halnya terkait isi dari produk, apa yang konsumen dapatkan dan juga konsumen menjadi siapa. Ketika kita memiliki suatu produk maka kita harus mengetahui kira-kira Apakah produk tersebut dibutuhkan, diinginkan dan dipercaya.

“Kita juga perlu memiliki magnet transaksi, dimana hal ini dapat menjadi di solusi terkait masalah konsumen karena telah menampilkan produksi serta adanya visual packaging dapat menampilkan terkait produk, baku dan juga proses produksi. Selanjutnya tempat dari packaging magnet yang harus menampilkan produk sebagai kebanggaan dari suatu daerah konsumen, lalu juga dapat menggunakan tampilan dari budaya setempat dan juga menggunakan huruf, foto dan warna yang sesuai,”.

Konsumen packaging magnet memiliki penampilan dari personality yang harus kuat dan juga dalam hal visual packaging menampilkan personality melalui huruf ataupun warna. Papi juga sekali sempat menceritakan terkait pengalamannya di dalam mengenal produk-produk dampingannya. Saat ini memproduksi konten juga sama pentingnya dengan memproduksi produk. Sehingga jika produk tidak menyampaikan pesan dari kontennya dan packaging maka ia akan ditinggalkan oleh pelanggannya. Packaging new mind adalah packaging atau kemasan yang bermuatan terkait konten maupun Story.

Bi memberikan sebuah penekanan bahwasannya ketika kita ingin memasukkan sesuatu hal di dalam packaging kita, maka kita harus tahu lebih dulu kira-kira hal apa yang menarik dan juga poin utama agar kita dapat menarik saya perlu dari konsumen. Tidak kalah penting hal apapun itu baik logo, gambar, ataupun harga yang ditampilkan dapat menjadi magnet dalam hal transaksi.

Bi juga juga menyarankan kepada UMKM agar fokus kepada tempat dimana ia berada atau regionalnya. Sehingga ketika kita ingin menarik daya beli dari masyarakat kita dapat menggunakan hal-hal yang bisa menarik interest mereka seperti halnya ketika kita berada di Jawa Barat Mungkin kita bisa menggunakan bahasa Sunda begitupun di daerah-daerah lainnya. Packaging zaman sekarang harus bisa membangun ikatan emosi dan membangun ekspresi dari orang yang melihat kemasan produk itu, terutama minat dari pelanggan atau konsumen untuk membeli.

Leave a Reply

Your email address will not be published.